BOGOR – Pagi hari itu, sekelompok pelajar mulai bergegas pergi menuju sekolahnya. Dari berbagai atribut, hanya sepatu yang tak mereka gunakan sebagai alas kakinya.
Ya, sepatu yang seharusnya melindungi kaki kecil mereka, terpaksa ditenteng untuk melewati anak sungai yang sedang dalam kondisi menyusut. Bila badai tiba, mereka terpaksa mengurungkan niatnya mengeyam pendidikan di bangku sekolah.
Kondisi itu masih terjadi di muka bumi ini, tepatnya di Kampung Sempur, RT 01 RW 04, Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Ini menjadi wajah pendidikan yang tak berkeadilan di bumi pertiwi.
Meski dirana serba keterbatasan, semangatnya mengubah nasib tetap menyala. Sarat formal pendidikan dasar hingga menengah warga setempat tetap mereka lakoni walau harus berbasah-basahan.
Keterbatasan akses jembatan yang menjadi idaman mereka bukan isapan jempol belaka. Aliran Sungai Cihideung itu hanya sepenggal dari rute perjalanan jauh menuju ke sekolahnya seperti SD Negeri 4 Petir, SMP Adi Bangsa, hingga SMP PGRI Cikupa.
Bicara pendidikan di Kabupaten Bogor sebelumnya sempat menonjol. Bukan prestasi, melainkan kesohor akibat adanya pemotongan hak pelajar dalam program bantuan PIP.
Meski begitu, Bupati Bogor Rudy Susmanto optimistis Kabupaten Bogor bakal menjadi daerah istimewa di pundak kepemimpinannya. Bersama Wakil Bupati Bogor Jaro Ade, Ia mengidamkan pemerataan pelayanan yang maksimal kepada setiap insan warga Kabupaten Bogor.
Apalagi hanya bicara soal pembangunan akses jembatan bagi sekelompok pelajar dan warga setempat ini, Ia bahkan dapat dengan cepat meresponnya. Kita tunggu saja aksinya, sebelum wajah pelajar di Kabupaten Bogor ini membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menangis. (Rga/bil)




















Discussion about this post