BOGOR — Proses panjang menuntut ilmu di Yayasan Pendidikan Islam Syifaul Furqon resmi berakhir bagi puluhan siswa lewat gelaran Haflah Akhirussanah, Selasa (16/6/2026).
Momentum perayaan Milad ke-24 ini menjadi panggung apresiasi bagi para santri yang berhasil memadukan fondasi Al-Qur’an dengan kreativitas modern, termasuk keberhasilan sejumlah siswi merilis buku novel karya mereka sendiri ke pasar nasional.
“Haflah atau perayaan imtihan ini sudah menjadi tradisi pesantren setiap tahun. Kegiatan ini menandai berakhirnya proses panjang menuntut ilmu,” ungkap Kepala Sekolah SMP Islam Syifaul Furqon, Ustadz Abdullah Sengkang didampingi Pimpinan SMK IT Napala Ustadz Baeti Firdaus.

Ustadz Abdullah Sengkang mengemukakan bahwa Haflah Akhirussanah bukan hanya ungkapan syukur atas pencapaian akademik, melainkan titik balik di mana ilmu yang telah digali harus mulai dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Santri dituntut untuk menjadikan ilmunya sebagai solusi atas tantangan zaman dan kebutuhan umat.
“Yang lebih penting menjaga ilmunya apa yang sudah diajarkan supaya menjadi bekal yang bermanfaat di mana pun berada dan menjadikan Al-Qur’an jadi pondasi utama serta tetap menjaga silaturahmi,” harapnya.
Sekadar infornasi, sejak berdiri tahun 1993 Syifaul Furqon yang dipimpin Ustadz KH Nasruddin S.Pdi ini mengelola pondok pesantren salafiyah. Sejak tahun 2017 ponpes yang beralamat di Kampung Lebak Bunut, Bojong Nyocok, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor ini membuka PAUDQu, TPQ, SMP Islam Syifaul Furqon, dan SMK IT Napala.
Syifaul Furqon cukup diminati calon santri dan siswa dari berbagai daerah karena memiliki keunggulan khususnya dalam program tahfidz quran, tahsil quran, dan tilawah quran.
Walhasil, banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh santri dan siswa Syifaul Furqon, antara lain juara 1 pentas PAI Kabupaten Bogor wilayah selatan, menjuarai karate tingkat nasional dan internasional pada 2024/2025, dan multimedia.
Yang tak kalah menarik, sejumlah lulusan Syifaul Furqon sukses membuat karya sastra dengan menulis buku-buku novel. Mereka adalah Dzihni Nafisatussaira dengan buku berjudul Perihal Takdir, Siti Najwa Nailal Muna dengan buku berjudul Jejak Kembali, Jauza Nazla Nafiisah dengan buku Seribu Luka Tanpa Pelukan. Ditambah lagi oleh Rishafa Azaahra dan Dzihni Kalilah.
“Awalnya hobi menulis, kemudian selama kurang lebih empat bulan saya tuangkan ke dalam tulisan menjadi sebuah novel. Bukunya kini sudah bisa dipesan secara online,” ucap Jauza. (Zul)


















Discussion about this post