BOGOR – Langkah Jajaran Polresta Bogor di bawah komando Kapolresta Bogor Kota, Kombes Bismo Teguh Prakoso membina pelajar yang terlibat tawuran, diapresiasi piagam penghargaan dari Kementerian PPA.
Selasa, (9/07/2024) kemarin, Kementerian Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) secara resmi memberikan penghargaan kepada Aparat Polresta Bogor atas perannya dalam usaha memberikan perlindungan kepada anak di Markas Polresta Bogor Kota.
Penghargaan ini diberikan atas inisiatif dan terobosan aparat Polresta Bogor, dalam menyadarkan 778 anak yang terlibat aksi tawuran massal selama ini.
Pemberian penghargaan kepada petugas Polresta Bogor dilakukan dengan penyerahan piagam penghargaan dari Menteri PPA yang diwakili Deputi Bidang Khusus Anak Dr Nazar kepada Kapolresta Bogor Kombespol Bismo Teguh Prakoso.
Polresta Bogor dinilai berhasil dalam melakukan terobosan membina ratusan anak pelaku tawuran sehingga bisa kembali menjadi warga yang baik dan diterima di lingkungan pekerjaan.
Dalam program yang dimaknai SKCK goes to school, aparat Polresta Bogor Kota mengumpulkan ratusan anak yang terlibat tawuran.
Ratusan anak ini kemudian diberikan pembinaan mengenai wawasan kebangsaan dan wawasan menempuh kehidupan.
Tak hanya itu para remaja yang sudah mendapat stigma nakal itu, juga diberikan pembekalan keterampilan dengan dikirim magang ke sejumlah perusahaan.

“Penanganan tawuran dengan ditangani SKCK gores to school ini merupakan terobosan pertama di Indonesia. Nanti kita akan minta juga dilakukan di polres-polres lain di seluruh Indonesia,” ungkap Nazar.
“Ini kok pendekatannya beda, SKCK itu label, stigma anak yang berhadapan dengan hukum, susah itu hidupnya selesai. Nah di Bogor ada pemulihan, tahapannya itu keren,” lanjutnya.

Sementara itu Kapolresta Bogor Kombespol Bismo Teguh Prakoso mengungkapkan, sejak awal dirilis satu tahun lalu, program SKCK gore to school sudah membina sebanyak 778 anak pelaku tawuran.
“Pelaku tawuran itu ada dua klasifikasi, ada yang berat, tetapi ada yang hanya ikut-ikutan. Yang berat diproses hukum, tapi yang ikut-ikutan kita bina,” ungkap Bismo.
Selain diberi wawasan mengenai kehidupan, ratusan siswa pelaku tawuran ini diberikan pendidikan keterampilan selama satu bulan dengan dititipkan ke perusahaan rekanan. Bahkan beberapa siswanya ada yang langsung diterima kerja.

“Kegiatan membersihkan sungai, ikut magang di UMKM sablon baju, membuat sandal, hidroponik, peternakan, pertanian dan lain-lain. Bahkan ada 2 perusahaan yg berkenan menerima yaitu du Paperina dan otomotif di Bekasi,” tambah Bismo. (be-020)



















Discussion about this post