BOGOR— Ribuan penggiat budaya, gabungan organisasi masyarakat (ormas), paguyuban, sanggar, dan yayasan Kasundaan menggelar kegiatan Riung Mungpulung di Kebun Raya Bogor pada Kamis (16/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 82 organisasi Kasundaan se-Bogor Raya dan dihadiri sekitar 1.000 peserta.
Mengusung tema “Hayu Urang Guyub Sauyunan, Saiiket, Saigel Jeung Dapihanean Mapag Padjajaran Anyar”, kegiatan ini menjadi simbol kuat kebersamaan lintas elemen budaya Sunda.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh K.H. Ahmad Taviv Budiman, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pembacaan Rajah Bubuka oleh Ki Odoy yang diiringi alunan kacapi suling.
Ketua panitia, Mela, mengatakan kegiatan ini digagas secara gotong royong dengan melibatkan seluruh organisasi.
Ia menekankan pentingnya nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh sebagai fondasi utama kebersamaan.
“Kegiatan ini kita gagas secara gotong royong dengan semangat silih asih, silih asah, dan silih asuh. Nilai warisan inilah yang mampu mempersatukan kita semua,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh Kasundaan Gugum Gumelar menyebutkan bahwa momentum ini menjadi ajang untuk melebur ego individu maupun organisasi demi persatuan sebagai urang Sunda.
Ia juga mengungkapkan rencana kolaborasi dengan pemerintah untuk menggelar festival budaya di Kebun Raya Bogor, serta mendorong penggunaan atribut Kasundaan bagi pengunjung pada hari tertentu sebagai bentuk penguatan identitas budaya.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pembacaan deklarasi pembentukan Forum Kebudayaan Kota Bogor oleh Deny J Wikartadirja.
Deklarasi tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Firdaus, yang menyambut baik inisiatif tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kebudayaan daerah.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan dari Bogor Wanita Berkebaya serta Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Merdeka Bogor.
Setelah itu peserta melanjutkan kegiatan dengan ziarah ke makam Maqom Ibu Ratu Galuh.
Ziarah ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur (karuhun) sekaligus pengingat akan akar sejarah budaya Sunda yang harus terus dijaga dan diwariskan.




















Discussion about this post