BOGOR – Sabtu pagi di Kedung Badak biasanya tenang. Tapi tidak pada 24 Mei 2025. Saat sebagian warga baru saja menyeduh kopi, suara gemuruh tiba-tiba memecah langit Kelurahan Kedung Badak, Tanah Sareal, Kota Bogor.
Atap rumah milik Ibu Yati tiba-tiba ambruk, menyisakan debu, serpihan kayu, dan kepanikan sembilan penghuninya.
Pukul 08.00 WIB, tanpa tanda-tanda, bagian tengah rumah, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi runtuh seketika.
Rumah itu adalah satu-satunya tempat tinggal bagi dua kepala keluarga. Tiga pria dan enam perempuan—termasuk anak-anak—berhamburan keluar, menyelamatkan diri dari reruntuhan yang nyaris menimpa mereka.
Tak ada gempa. Tak ada ledakan. Tapi langit mendung, angin lembab, dan bangunan yang rapuh melengkapi penderitaan mereka.
Warga sekitar segera menyebarkan kabar melalui media sosial, hingga pukul 09.40 WIB laporan resmi diterima oleh Pusdalops-PB BPBD Kota Bogor.
Regu 3 yang sedang piket pagi itu tak membuang waktu. Dipimpin Danru M. Fajar Solehudin, tim reaksi cepat (TRC-PB) meluncur ke lokasi lima menit kemudian.
Pukul 12.45 WIB, proses penanganan darurat pun selesai. Namun trauma masih membekas di mata para penghuni rumah.
“Kalau kami sedikit lebih lambat keluar, mungkin ceritanya sudah lain,” ujar salah satu anggota keluarga, masih gemetar mengingat detik-detik atap rumahnya runtuh.
Koordinat lokasi kejadian, -6.562112, 106.802961, kini menjadi saksi bisu bencana yang tak disangka.
Tim BPBD bersama perangkat kelurahan, TAGANA Kota Bogor, LPM, serta RT/RW setempat bergerak cepat melakukan assessment. Mereka mendapati kondisi bangunan sudah rapuh, mungkin sejak lama.
Bantuan darurat langsung disalurkan. Terpal, hygiene kit, matras, dan selimut diberikan untuk menopang kebutuhan sehari-hari.
Namun, hunian sementara masih sangat dibutuhkan. Ibu Yati dan keluarganya, yang kini tinggal di puing-puing rumahnya sendiri, berharap ada tangan pemerintah yang lebih besar menjangkau.
“Bantuan awal kami berikan, tapi ini belum cukup. Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya logistik, tapi juga perlindungan jangka panjang,” jelas Fajar Solehudin saat ditemui di lokasi.
Empat personel BPBD, Sahrul Setiawan, M. Ridwan, M. Iqram Juansyah, dan M. Gery Alghifari, menyisir reruntuhan, memastikan tak ada korban lain.
Hasilnya, nihil korban luka maupun jiwa. Namun kondisi psikologis korban, terutama anak-anak, menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Di tengah derasnya pembangunan dan padatnya kota, masih banyak rumah-rumah seperti milik Ibu Yati berdiri sendiri, menua dalam diam, dan rapuh menunggu runtuh. Cuaca ekstrem adalah pemicu, tapi kesiapsiagaanlah yang menentukan.
Pagi itu, langit Kota Bogor menyimpan peringatan, bahwa kita tak pernah tahu, rumah yang selama ini kita anggap tempat paling aman, bisa berubah menjadi reruntuhan hanya dalam hitungan detik. (Bil/Win)



















Discussion about this post