BOGOR – Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Bondongan yang akan beroperasi menuai protes dari masyarakat sekitar. Pasalnya, keberadaannya tidak mengakomodir warga lokal untuk perekrutan karyawannya.
Salah seorang warga Yayat mengatakan sejumlah warga mengaku keberatan setelah mengetahui komposisi tenaga kerja yang disebut lebih banyak berasal dari luar wilayah.
“Informasinya sekitar 70 persen dari luar dan hanya 30 persen warga sini. Itu yang membuat warga merasa tidak dilibatkan,” ujarnya.
“Awalnya kami sangat mendukung. Tapi setelah tahu soal itu, warga jadi merasa tidak dihargai,” ambahnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pelamar mencapai sekitar 76 orang. Setelah melalui proses seleksi, tersisa sekitar 40 orang yang dipersiapkan untuk bekerja.
Namun, dengan adanya pembatasan kuota warga lokal, dikhawatirkan hanya sebagian kecil yang akan terserap.
Warga pun berharap ke depan ada evaluasi terkait kebijakan perekrutan, agar manfaat program tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga dari segi pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
“Programnya bagus, kami mendukung. Tapi harapannya warga sekitar juga bisa lebih banyak dilibatkan,” katanya.
Menanggapi keluhan warganya, Lurah Bondongan, Yanti Maryanti, menjelaskan terkait sumber daya manusia, pihak kelurahan menyebut tenaga yang dilibatkan berstatus relawan dan tidak seluruhnya berasal dari warga Bondongan.
“Relawan ini dibuka untuk umum, jadi tidak 100 persen dari warga Bondongan. Ada juga yang berasal dari luar wilayah,” jelasnya.
Untuk proses perekrutan relawan dimulai sekitar pertengahan April, karena sebelumnya baru tahap sosialisasi. Tidak langsung launching, tetapi ada tahapan seperti perekrutan relawan dan pelatihan terlebih dahulu sebelum mereka mulai bekerja.
“Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi atau mendaftar sebagai relawan dapat langsung datang ke kantor kelurahan maupun ke wilayah RW 07,” katanya.
Dirinya menambahkam, rencananya, akan dibangun dua unit SPPG di wilayah tersebut. Saat ini, satu unit sudah hampir rampung 100 persen, sementara satu unit lainnya masih dalam proses pembangunan.
SPPG yang hampir selesai tersebut berada di bawah naungan Yayasan Mutiara Gizi Nasional yang dipimpin oleh pakar gizi, Prof. Ikeu Tanziha Program ini menyasar kelompok prioritas “3B”, yaitu balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. (Rajiv Jawas)





















Discussion about this post