MEKKAH – Ibadah a ke Tanah Suci Mekkah, sangat diidamkan seluruh umat Muslim di Dunia, tak terkecuali di Indonesia. Beragam hikmah didapatkan seseorang yang punya kesempatan untuk beribadah langsung di depan Ka’bah.
Seperti yang diungkapkan Dr. Iwan Sumiarsa,SH.,MAP.,MH, Pembina LBH Keadilan Rakyat. Ia berkesempatan mencurahkan apa yang dirasakannya ketika menjalani ibadah haji.
Menurutnya, haji adalah perjalanan suci bagi seorang Muslim. Karena itulah sebelum berangkat haji, setiap muslim harus menyiapkan diri dengan ilmunya, membekali jiwa dengan ketaqwaan dan bersihkan hati dengan bertaubat.
Ibadah haji merupakan perjuangan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT Sang Pencipta. Setiap langkahnya harus tawakal bersabar menghadapi semua ujian dan cobaan.
“Falsafahnya wukuf di Padang Arfah adalah bahwa seorang muslim harus menaikan diri pada makom/derajat spiritual utk mengetahui siapa diri kita, siapa Tuhan kita dan akan kemana kita kembali,” ujar Dr Iwan kepada Bogorexpose.
Dalam bahasa tasawuf adalah ihsan yang berbunyi, man arofa nasfahu Faqod arofa robbahu yang artinya, barang siapa yang tau asal asil dirinya, pasti akan mengetahui Allah yang menciptakan dirinya.
Maka menurutnya, kedudukan ma’rifat dalam ilmu tasawuf adalah makom yang tertinggi.
Sebagai cirinya, dia rajin beramal baik tapi hatinya tidak mengakui amal tersebut, adalah amal yang dilakukan oleh dirinya melainkan amal pemberian dari Allah yang menguasai dirinya dan matinya ada dalam genggaman qudrot irodatNya, mampu menggerakan hidup untuk memberikan manfaat bagi yang lainnya.
Maka setelah haji selesai dengan dimulai oleh niat haji, berihram, wukuf di Arfah, jumroh dan towaf ifadoh.
“Maka ketika selesai rangkaian ibadah dilakukan di tanah suci, harus diimplementasikan di negara masing masing tempat tinggal kita agar, menjaga kesucian hubungannya /keihlasan pada ibadah Allah dan harmonisasi habluminnas,” ujarnya.
Ia berpendapat, sebaik-baiknya manusia, harus memberikan nilai manfaat untuk manusia lainnya, dengan tidak melupakan amar ma’ruf nahi mungkar. “Kuntum Khairo ummat uhrijat linnas ta’muruna bil Ma’ruf watanhauna anil munkar,”
Ritual haji sudah selesai tapi perjuangan hidup harus dilanjutkan, sampai ruh kita dijemput oleh Allah.
Gelar haji, kata Dr Iwan, bukanlah sebuah tujuan namun sebuah pengingat/tanbih bagi jemaah haji. Agar sebelum berucap dan bertindak harus hati-hati jangan sampai menyakiti sesama mahluk Allah. dan istiqomah dalam beribadah. Semoga haji tersebut mabrur mabruroh.
“Hikmah yang dapat kita ambil dari rangkaian ibadah haji, semoga ada nilai manfaatnya buat kita semua,” pungkasnya. (Leh)





















Discussion about this post