BOGOR – Robi Setiawan bukan sekadar nama di kredit album. Bagi generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu pop yang menghangatkan pagi dan malam, namanya identik dengan gitar yang tak pernah berlebih kata namun selalu menghantarkan perasaan.
Perjalanan musiknya dimulai di panggung-panggung kecil, merangkak sampai ia dikenal sebagai gitaris Anima — nama yang pernah mengantar banyak pendengar pada momen-momen penting dalam hidup mereka.
Perubahan bukan berarti kehilangan. Setelah fase bersama Anima, Robi melanjutkan langkahnya bersama Lavina Band — membawa pengalaman lama ke warna musik yang baru.
Di sana terlihat sisi lain dari seorang gitaris yang tak lagi mengejar spotlight besar semata, melainkan menajamkan cerita lewat aransemen sederhana yang membuat pendengarnya ikut bernapas.
Yang menarik, Robi menyempatkan dirinya di waktu luang untuk bermain di Kopi Jurang by Atok, sebuah kafe di kawasan Bogor yang mengedepankan suasana alam dan kehangatan pertemuan.

Di sinilah Robi membuka ruang yang lebih dekat, tidak hanya konser besar, tetapi sesi-sesi akustik yang memungkinkan obrolan singkat, tawa, dan permintaan lagu antara secangkir kopi dan senja.
Terkadang ia tampil pada hari Rabu, Sabtu, dan Minggu, menjadi magnet sederhana bagi mereka yang rindu menyaksikan musisi secara intim.
Datang ke Kopi Jurang sering kali terasa seperti memasuki ruang cerita—meja-meja dari bambu, lampu-lampu temaram, dan bisik angin malam yang membawa melodi Robi melintas pelan.
Pendengar yang datang bukan sekadar penonton; mereka menjadi bagian dari sesi, menyusupkan kenangan lewat tepuk ringan atau menyenandungkan bait yang telah lama menempel.
Ada kebendaan sederhana—kopi jahe hangat, es pala, sate kambing kampung—yang melengkapi pengalaman mendengarkan musik tak terlupakan ini.

Bagi Robi, ruang-ruang kecil seperti ini memberi kemungkinan lain, berinteraksi langsung dengan orang-orang yang selama ini hanya ia temui lewat radio atau layar.
Di Kopi Jurang ia membaca wajah-wajah yang menangis pelan saat lagu-lagu lama dipetik ulang, ia melihat sepasang kekasih yang baru bertemu, orang tua yang mengangguk mengenang masa muda, remaja yang menemukan nama band baru untuk diikuti. Musiknya menjadi jembatan personal, bukan sekadar tontonan.
Jika tujuanmu sederhana, ingin menemukan musik yang meredakan, bertemu musisi yang ramah, atau sekadar menikmati sore di tempat yang menyimpan rasa, Kopi Jurang by Atok memberi itu semua.
Pergilah saat Rabu, Sabtu, atau Minggu; duduk di sudut yang menghadap lantai bambu; pesan minuman hangat; dan biarkan Robi membawamu melintasi lagu-lagu yang pernah menjadi soundtrack hidup banyak orang.
Suasana di sana membuat pertemuan dengan seorang gitaris terasa seperti pertemuan lama yang tak pernah pudar.
Kafe ini pun hidup kembali berkat campur tangan Haji Ari Munandar, atau yang akrab dikenal sebagai Haji Atok Muda, sosok di balik wajah baru Kopi Jurang by Atok — tempat di mana musik, kopi, dan kenangan kini kembali menemukan rumahnya. (Zulfie)





















Discussion about this post