BOGOR – Pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Bosowa Bina Insani Kota Bogor terus berbenah pasca terjadinya insiden keracunan terhadap 223 siswa dan guru.
Pihak pengelola menghentikan layanan MBG untuk dilakukan evaluasi serta memutus mata rantai keracunan tersebut.
Ketua Yayasan Bina Insani Asrul Hidayat mengungkapkan evaluasi terhadap musibah keracunan ini sendiri dilakukan secara menyeluruh terhadap semua proses pembuatan makanan bergizi tersebut.
Pemeriksaan dilakukan mulai dari proses awal pemilihan bahan baku, SOP masak hingga pengiriman kepada ribuan penerima manfaat.
“Kami melakukan evaluasi dan memperketat pengawasan mulai dari tahapan proses, pemilihan bahan baku, proses memasak, sampai ke distribusi makanan ke sekolah-sekolah,” ungkap Asrul.
Asrul mengungkapkan pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Bogor yang melakukan proses uji sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan.
Dari pemeriksaan ini diketahui makanan tersebut berasal dari olahan telur dan sayuran. Namun jika ditilik dari prosentase yang mengalami keracunan hanya kecil jika dibanding dengan seluruh paket makanan yang disajikan.
Sekadar diketahui Dapur MBG Bina Insani melayani 13 sekolah dengan sekitar 3 ribu siswa. Sampai saat ini sudah 200 ribu paket MBG yang diberikan kepada penerima manfaat.
Dalam proses memasak, para pekerja akan dibekali kembali mengenai kompetensi dan menekankan bekerja harus sesuai dengan standar operasional (SOP) yang berlaku.
Pihak Dapur MBG Bina Insani juga akan bekerjasama dengan BPOM untuk pengawasan makanan.
“Kami pastikan pemasok sudah terverifikasi dan memiliki sertifikasi keamanan pengaman. Kita tidak ingin kejadian ini berulang kembali. Ini jadi pembelajaran buat kita semua,” tandasnya.
Sementara itu pasca terjadinya keracunan pihak pengelola sudah stop operasional untuk dilakukan evaluasi menyeluruh.
Meski demikian kini pihak pengelola sudah siap kembali beroperasi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang lebih ketat lagi untuk mengantisipasi kesalahan. (her)



















Discussion about this post