BOGOR – Kondusifitas Kota Bogor terusik dengan munculnya isu tak sedap yang mendera penghuni Balaikota.
Mulai dari perpecahan hingga adanya orang ketiga, mulai ramai dibicarakan di pertengahan bulan suci Ramadhan 2026 ini.
Usai ramai dikabarkan lenyapnya Wakil Walikota Bogor Jenal Muttaqin di sejumlah kegiatan hingga akun medsosnya, kini muncul dugaan adanya perseteruan antara Walikota dan Wakil Walikota.
Beredar kabar, adanya perseteruan antara Dedie Rachim dan Jenal Muttaqin alias JM hingga adu mulut yang menjadi musabab hengkangnya wakil walikota dari singgasana.
Namun kabar itu dibantah Walikota Bogor, Dedie Rachim. Ia bersikeras, pasangannya di Pilwalkot Bogor 2024 itu sedang dalam kondisi sakit.
“Waalaikumsalam Wrwb. Mestinya sudah pada tau beliau sakit. Ngga usah ditanggapi kang. Bikin spekulasi padahal pada tau pokok masalahnya,” kata Dedie Rachim menjawab pertanyaan redaksi Bogorexpose, Minggu (01/03/2026).
Begitupun dengan Sekretaris Daerah Kota Bogor, Deni Mulyadi. Ia membantah kabar jika perpecahan kedua pemimpin itu akibat bagi-bagi porsi kewenangan. “Gak bener,” kata Deni, singkat.
Sementara saat dikonfirmasi kepastian kabar sakitnya wakil walikota dan tanggapannya terkait hasil survei Linus, Deni juga hanya menjawab dua kata. “Ga,” tulisnya.
Selain bersikap terasa arogan sebagai pimpinan pelayan masyarakat yang digaji APBD saat menjawab pertanyaan, jawaban Sekda Kota Bogor justeru menimbulkan spekulasi baru.
Musababnya, pertanyaan rinci terkait kepastian JM sakit tidak dijawab sehingga menimbulkan keraguan. Lantas, apakah betul JM sakit? Dirawat dimana dan sakit apa, kini jadi misteri.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bogor, Rudiana juga membantah beragam kabar tak sedap itu. Ia juga kompak sebut sang pahlawan heroik itu sedang dalam kondisi sakit. “Yang saya tau beliau sedang sakit kang,” kata Rudiana.
Namun saat didesak pertanyaan selanjutnya, Rudiana mengaku tidak tahu. “Saya juga belum tahu kang,” kata Rudiana, Sabtu (28/02/2026) sore.
Rudiana juga membantah isu adanya wanita pihak ketiga yang ikut merumitkan suasana hubungan antara Walikota dan Wakil Walikota. “Insya Allah gak ada kang,” ujarnya.
Sebelumnya, Founder Lembaga Survei Visi Nusantara (LS Vinus), Yusfitriadi menyebut adanya gejala pecah kongsi antara Dedie Rachim – Jenal Mutaqin (JM) dalam setahun kepemimpinan mereka.
Yusfitriadi mengatakan bahwa indikasi itu terlihat dari hasil survei yang dilakukan pihaknya terhadap kinerja Dedie A Rachim sebagai wali kota dan JM sebagai wakil walikota yang dilaksanakan pada 10 hingga 15 Februari lalu, yang melibatkan 800 responden dengan metode pengumpulan data secara wawancara langsung.
Menurut Yus, berdasarkan hasil survei tingkat keluasan publik terhadap kinerja Dedie A Rachim sebagai walikota sebesar 46,75 persen. Sedangkan kinerja JM mendapat nilai lebih tinggi dari publik, yakni 51,75 persen.
Keberhasilan JM, tak terlepas dari langkahnya mengambil peran eksternal dengan sering muncul di hadapan publik. Misalnya, dia mengaspal jalan yang bolong dengan uang pribadi, hingga terlibat langsung mengurai kemacetan.
Seharusnya, kata Yus, wakil walikota fokus dalam pembenahan internal. Namun, ia menduga langkah mengambil peran eksternal lantaran tak diberi porsi di dalam.
“Kinerja JM terlihat lebih tinggi, karena publik sering melihat yang bersangkutan muncul di luar atau mengambil peran eksternal, yang harusnya fokus ke internal,” ujar Yusfitriadi kepada wartawan.
Sedangkan Dedie, kata dia, lebih terlihat hadir di kegiatan seremonial. Sehingga peran wakil walikota terlihat lebih kuat di mata publik.
“JM muncul di grass root, dan Dedie banyak muncul di level seremonial saja,” tegas Yusfitriadi.
Menurut Yus, terdapat tiga indikator yang menyebabkan munculnya indikasi pecah kongsi. Pertama, diduga ada penguasaan di seluruh lini oleh walikota, yang harusnya mesti ada pembagian peran, termasuk kepada sekretaris daerah.
Kedua, sambung dia, JM lebih sering tampil di pubilk. Padahal, seharusnya ia fokus pada pembenahan internal. Sedangkan yang ketiga, adanya orientasi politik dari keduanya.
“Seperti diketahui, Dedie sekarang adalah Ketua DPD PAN, sedangkan JM adalah kader partai Gerindra yang partainya punya potensi berkuasa di Kota Bogor,” tandas Yus.
Yus juga menuturkan, indikator ketiga itu mencuat tak terlepas juga dari hasil survei LS Vinus yang menempatkan Gerindra sebagai partai peringkat pertama dengan persentase 14,12 persen.
Sedangkan PAN ada di posisi ketujuh dengan persentase 3,50 persen. Sementara partai penguasa parlemen saat ini PKS berada di pos ketiga, yakni 7,50 persen. (Billy Adhiyaksa)




















Discussion about this post