BOGOR – Jajaran Satreskrim Polresta Bogor Kota, kini mulai mendalami kasus keracunan makanan yang dialami 93 orang warga dan tewasnya seorang warga RW 12, Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Luthfi Olot Gigantara menerangkan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor tengah melakukan serangkaian kegiatan penyelidikan berupa pemeriksaan kepada 5 saksi.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinkes untuk melakukan uji laboratorium pada sampel sisa makanan dan muntahan para korban. Hal itu dilakukan pihaknya untuk mencari penyebab keracunan massal dan bakteri yang ada di makanan tersebut.
Pihaknya juga telah melakukan beberapa pemeriksaan keluarga korban meninggal dunia. Namun Luthfi menyebut pihak keluarga korban enggan melakukan otopsi. “Namun demikian kami tetap melakukan penyelidikan sehingga kami bisa memperoleh kesimpulan yang tepat terkait peristiwa ini apakah ada unsur kelalaian atau murni karena musibah,” tuturnya.
Luthfi menjelaskan kasus keracunan itu bermula ketika salah satu warga berinisial M di RT 1 RW 12 Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan mengadakan haul 100 hari meninggalnya sang suami pada Sabtu (1/6/2024). M kemudian meminta kerabatnya menyiapkan beberapa jenis makanan untuk acara tersebut.
Di antaranya makanan berat yang terdiri dari nasi uduk dengan lauk telur balado, oseng tempe, dan beberapa menu lainnya. Terdapat pula makanan ringan seperti kue-kue pasar.
“Kemudian sehari setelahnya di hari Minggu baru terjadi gelombang dari masyarakat yang hadir dan menikmati menu tersebut mengakami gejala-gejala yang didiagnosis sama. Yakni mual, pusing, dan buang air besar. Hingga akhirnya di hari Senin (3/6/2024) terdapat 1 korban meninggal dunia berinisal AS (24),” ungkap Luthfi, Kamis (06/06/2024).
Sebelumnya, Ahmad Salim (35) warga RW 12 Kelurahan Cipaku, Bogor Selatan, Kota Bogor harus meregang nyawa setelah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ia menjadi satu-satunya korban wafat setelah keracunan usai mengkonsumsi masakan pengajian tahunan alias haul tetangganya. Keluargapun kini menuntut keadilan.
Komarudin (50) paman dari Ahmad Salim menegaskan jika keluarganya sangat terpukul atas kepergian keponakannya itu. Ahmad Salim wafat saat mendapat perawatan di rumah sakit dan kini sudah dimakamkan. “Awalnya terasa sakit perut, terus lemas. Kondisinya parah. Meninggalnya setelah Ashar kemarin,” ungkap Komarudin, Selasa (04/06/2024).
Komarudin mengaku sempat membawa korban ke klinik 24 jam terdekat. “Dia mual tapi tidak muntah, lalu diinfus. Pulang ke rumah sudah lebih baik. Malamnya terasa lagi lalu dibawa ke puskemas dan akhirnya meninggal,” tandasnya.
Komarudin mengaku kecewa atas apa yang dialami sanak keluarganya. Ia meminta proses hukum berjalan, tidak sampai pada permintaan maaf semata. Ia meminta aparat berwenang mengusut tuntas penyebab kematian korban. “Keluarga merasakan sakit dan kecewa. Urusan nyawa keponakan saya sampai tidak ada begini. Saya ingin proses ini berlanjut tidak hanya diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Komarudin. (be-007)




















Discussion about this post