Pati – Puluhan ribu warga Kabupaten Pati kembali memadati Alun-Alun dan area Pendopo Kabupaten, Rabu (13/8/2025), melanjutkan aksi protes yang dipicu kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen.
Meski kebijakan tersebut telah dibatalkan Bupati Sudewo pada 8 Agustus lalu, massa tetap bertahan dengan tuntutan baru yaitu meminta Bupati mundur dari jabatannya.
Aksi yang digalang Aliansi Masyarakat Pati Bersatu ini diikuti berbagai elemen, mulai petani, pedagang pasar, pekerja, hingga aktivis.
Sejumlah peserta aksi membawa logistik berupa air mineral dan bahan pangan yang dikumpulkan di posko donasi di sekitar alun-alun.
Kericuhan sempat terjadi ketika demonstran berusaha mendorong barikade aparat untuk mendekati Pendopo. Botol air mineral dilempar ke arah petugas, yang kemudian membalas dengan tembakan gas air mata.
Aparat gabungan TNI, Polri, dan instansi terkait berjumlah 2.684 personel dikerahkan untuk menjaga situasi.
Dalam insiden tersebut, sejumlah korban luka dilaporkan, dan tiga orang—dua remaja perempuan bernama Zahra dan Syalwa, serta seorang jurnalis bernama Lilik—disebut meninggal dunia. Laporan ini masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
Bupati Sudewo sebelumnya membatalkan kenaikan PBB-P2 melalui Surat Keputusan Bupati dan meminta maaf kepada masyarakat atas kebijakan yang menimbulkan keresahan.
Ia juga berjanji mengembalikan selisih pembayaran pajak kepada warga. Namun, langkah tersebut belum meredakan ketegangan di Pati.
Massa juga menyuarakan penolakan terhadap sejumlah kebijakan daerah lain, di antaranya penerapan lima hari sekolah, renovasi Alun-Alun Pati senilai Rp2 miliar, pembongkaran masjid bersejarah di kawasan tersebut, dan proyek videotron senilai Rp1,39 miliar.




















Discussion about this post