BOGOR – Warga korban banjir bandang di Lebak, Banten, yang telah lima tahun tinggal di hunian sementara (huntara) dengan kondisi memprihatinkan, kini berharap dapat direlokasi ke Bogor, Jawa Barat.
Keinginan ini muncul setelah melihat keeberhasilan Pemerintah Kabupaten Bogor dalam membangun hunian tetap (huntap) bagi korban bencana serupa pada awal 2020.
Pada awal 2020, banjir bandang dan longsor melanda Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten.
Sebanyak 135 kepala keluarga (KK) terdampak bencana tersebut hingga kini masih tinggal di huntara yang terbuat dari bambu, beratap terpal plastik usang, dan berlantai tanah.
Kondisi ini membuat mereka merasa waswas saat hujan dan kepanasan saat kemarau, serta kesulitan mendapatkan air bersih.
Sementara itu, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Ade Yasin watu itu, berhasil membangun dan meresmikan 1.753 unit huntara untuk korban bencana di Kecamatan Sukajaya dan Leuwisadeng pada Juli 2020.
Pembangunan huntap juga dilakukan, dengan 205 unit rampung di Desa Sukaraksa, Kecamatan Cigudeg, dan 358 unit di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, yang ditargetkan selesai pada Mei 2021.
Keberhasilan relokasi korban bencana di Bogor ini membuat warga Lebak merasa iri dan berharap mendapatkan perlakuan serupa.
Emin, salah satu warga huntara di Lebak, menyatakan keinginannya untuk pindah ke Bogor demi kehidupan yang lebih layak.
“Kalau disuruh milih, saya mending pindah ke Bogor. Di sini tidak ada perubahan. Sengsara terus,” ujar Emin, warga huntara
Hal senada disampaikan oleh Raman, warga lain yang telah enam tahun bertahan di huntara. ia mengaku lelah dengan kondisi saat ini sebab rumah merupakan kebutuhan utama.
“Kami capek dijanjiin terus. Saudara kami di Bogor setahun setelah bencana sudah dapat rumah. Kami? Masih di gubuk ini,” katanya dengan nada kecewa.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi Partai Nasdem, Asep Awaludin, menyebut keinginan warga untuk pindah ke Jawa Barat sebagai “tamparan keras” bagi pemerintah daerah.
“Ini kritik pedas untuk Pemprov Banten dan Pemkab Lebak. Harusnya malu dengan kondisi ini,” ujar Asep saat meninjau lokasi.
Ia mengkritik Pemprov Banten dan Pemkab Lebak yang dinilai abai terhadap nasib korban banjir bandang dan longsor di Lebak.
Saat ini, 135 kepala keluarga di Lebak masih menanti kejelasan janji pemerintah tentang relokasi ke hunian tetap. Mereka mendesak pemerintah segera bertindak agar dapat hidup secara manusiawi dan bermartabat, seperti warga terdampak bencana di daerah lain.
Asep juga menyampaikan beberapa warga bahkan pindah dan menikah dengan warga Bogor demi mendapatkan rumah.
“Ada yang nikah langsung dikasih rumah oleh Pemkab Bogor. Di sini? Warga asli Banten malah terus diabaikan,” pungkasnya. (Red)





















Discussion about this post