BOGOR – Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Nur Sri Cahyawijaya membenarkan jika pihaknya tengah mendalami dugaan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan Jembatan Otista Kota Bogor senilai Rp 52 miliar.
“Tim lakukan penyelidikan terkait dugaan tipikor di PUPR Kota Bogor,” ujar Nur Sri, saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Selasa (24/09/2024).
Saat ini, jajaran Kejati Jabar tengah melaksanakan penyelidikan untuk mengumpulkan alat bukti.
“Mengumpulkan alat bukti bang,” kata Nur Sri saat ditanya soal sejauh mana proses penyelidikan yang dilakukan jajarannya.
Nur Sri Cahyawijaya juga membenarkan adanya permintaan keterangan terhadap sejumlah pihak, termasuk mantan Kadis PUPR Kota Bogor, Rena Da Frina.
“Kami sudah undang untuk memberikan keterangan, namun yang bersangkutan tidak memenuhinya,” ujarnya.
Tidak menutup kemungkinan, Kejati Jabar juga bakal memintai keterangan dari sejumlah pihak lainnya.
“Ini masih berproses di penyelidikan bang, karena semua tim lidik bekerja,” tandas Nur menjawab pertanyaan, kemungkinan adanya upaya undangan keterangan kepada para pihak lainnya.
Rena Da Frina, mantan Kepala Dinas PUPR Kota Bogor membantah kabar tersebut. “Saya tidak dapat panggilan bang,” kata Rena, menjawab upaya rekonfirmasi awak media.
Rena mengakui sudah mengetahui informasi tersebut. Namun ia mengaku tidak pernah diperiksa atau dipanggil jajaran Kejati Jabar.
“Apapun tujuannya terima kasih, saya fokus pada langkah-langkah mencapai kemenangan saja,” tandas Cawalkot Bogor nomor urut 4 itu.
“Yang jelas aku gak mau ribut-ribut sebar hoax, habiskan energi dan belum tentu juga yang bersangkutan itu lebih bagus dari yang diserangnya,” lanjut Rena.
Proyek Jembatan Otista Kota Bogor yang digarap PT Mina Fajar Abadi itu sejak awal telah menyebabkan sejumlah masalah. Proyek yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 19 Desember 2023 itu juga sempat membentur aturan cagar budaya dan berujung perubahan rencana pembongkaran.
Pembangunan jembatan yang disebut-sebut sebagai solusi kemacetan di Jalan Otista itu, hingga kini belum terasa dampaknya. Jalan Otista tetap saja mengalami kepadatan lalulintas, terutama saat musim libur dan akhir pekan. (Bil)






















Discussion about this post