BOGOR – Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan keracunan pangan yang menimpa sejumlah siswa SDN Ciangsana 02, Kecamatan Gunung Putri, Kamis (16/10/2025).
Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh Puskesmas Ciangsana setelah tujuh siswa mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sakit perut usai menyantap menu dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data Dinkes, sebanyak 3.034 siswa dari 10 sekolah di wilayah tersebut menerima makanan dari Program SPPH Ciangsana, Yayasan Rumika Peduli Bangsa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, menjelaskan, para siswa SDN Ciangsana 02 yang sempat mengalami gejala langsung mendapatkan perawatan di Puskesmas Ciangsana dan seluruhnya diperbolehkan pulang pada pukul 13.00 WIB di hari yang sama.
“Setelah dilakukan penanganan medis, seluruh siswa yang mengalami gejala sudah membaik dan tidak ada korban yang dirawat inap,” ujar Fusia.
Ia memaparkan, menu makanan yang dikonsumsi para siswa pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, ayam goreng tepung asam manis, tahu goreng, mix vegetable, dan buah jeruk.
Gejala mulai muncul sekitar pukul 11.15 WIB, dengan masa inkubasi sekitar 15 menit.
Untuk memastikan penyebab pasti kejadian, Dinkes Kabupaten Bogor telah menurunkan tim investigasi ke lokasi pembuatan makanan di SPPH Ciangsana, Yayasan Rumika Peduli Bangsa.
Langkah cepat juga dilakukan oleh Puskesmas Ciangsana melalui pengobatan rawat jalan, pelacakan dan pemantauan populasi berisiko, pemantauan kasus baru selama masa inkubasi, serta pengambilan sampel makanan untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Kelas A Kabupaten Bogor.
Selain itu, dilakukan pula penyuluhan tentang keamanan pangan dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Fusia juga mengimbau seluruh Kepala Puskesmas di Kabupaten Bogor agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kejadian serupa di wilayahnya masing-masing.
“Koordinasi lintas sektor sangat penting agar penanganan bisa dilakukan cepat dan tepat bila ditemukan laporan gejala keracunan di sekolah,” tegasnya.
Ia berharap, dengan peningkatan kewaspadaan dan penerapan prinsip keamanan pangan di lingkungan sekolah, kejadian serupa dapat dicegah sehingga kesehatan para siswa dan masyarakat Kabupaten Bogor tetap terjaga. (Win)



















Discussion about this post